PALU, – Dugaan skandal perselingkuhan yang menyeret oknum pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mencuat ke publik. Kasus ini tidak hanya menyangkut hubungan pribadi, tetapi juga dugaan kekerasan dan intimidasi terhadap seorang perempuan.
Perempuan tersebut diketahui merupakan ASN yang bertugas di salah satu biro di lingkup Pemprov Sulteng. Sementara pria yang diduga terlibat dalam kasus ini disebut-sebut menduduki jabatan strategis di lingkungan Pemprov..
Kakak korban menuturkan, berdasarkan pengakuan adiknya, hubungan keduanya bermula saat bertemu di Jakarta pada 2022.
“Saat itu dia (pejabat Pemprov Sulteng) datang ke Jakarta dan berusaha berkenalan dengan adik saya. Awalnya tidak ditanggapi,” ujar kakak korban kepada media, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, pria tersebut mengaku belum memiliki istri. Hubungan keduanya kemudian berlanjut hingga semakin intens setelah korban lolos menjadi ASN di salah satu biro Pemprov Sulteng pada 2024.
Belakangan, korban baru mengetahui bahwa pria tersebut ternyata telah berkeluarga dan memiliki anak.
Selama berada di Kota Palu, keduanya disebut kerap bertemu. Menurut keterangan keluarga, korban justru mengaku beberapa kali menerima perlakuan kasar dan mengalami kekerasan.
“Dia meminta adik saya tidak membuka persoalan ini ke publik karena katanya sedang dalam proses promosi jabatan,” kata kakak korban.
Malahan korban beberapa kali ingin memutuskan hubungan dengan laki-laki tersebut hanya saja sering mendapat tekanan.
“Adik saya ini sudah lama mau lepas dari itu laki-laki, cuma ada-ada saja tekanan, dia kejar terus adik saya, saya baru tahu ternyata selama adik saya ada masalah, dia baru mau cerita,” ujarnya.
Keluarga korban juga menunjukkan sejumlah tangkapan layar percakapan yang diduga berisi intimidasi dari pelaku. Selain itu, mereka memperlihatkan foto yang disebut sebagai bukti kekerasan yang dialami korban.
Akibat tekanan yang terus diterima, korban memilih menghindari pertemuan dengan pria tersebut karena merasa takut.
“Saat ini adik saya lebih banyak mengurung diri. Kondisi mentalnya sangat terganggu dan dia ketakutan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Sulawesi Tengah telah dihubungi untuk dimintai keterangan terkait kemungkinan adanya laporan dari korban. Namun hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan.(*)