PALU,- Ketahanan sistem kelistrikan dinilai menjadi salah satu prasyarat penting bagi Sulawesi Tengah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulawesi Tengah mendorong pemerintah mempercepat diversifikasi sumber energi, terutama pengembangan energi baru terbarukan (EBT), agar pasokan listrik tidak terlalu bergantung pada satu jenis pembangkit.
Ketua APINDO Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra, mengatakan persoalan keandalan listrik perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda strategis pembangunan ekonomi daerah. Menurutnya, pertumbuhan investasi dan aktivitas industri membutuhkan pasokan listrik yang stabil, terjangkau, serta mampu menghadapi perubahan kondisi pembangkitan.
Dorongan tersebut disampaikan di tengah pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Palu dan sejumlah wilayah Sulawesi Tengah dalam beberapa hari terakhir.
PT PLN (Persero) sebelumnya menjelaskan pengaturan beban dilakukan untuk menjaga kestabilan sistem setelah adanya pemeliharaan infrastruktur pada sistem interkoneksi Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel). Kondisi tersebut berdampak terhadap penurunan daya mampu pasok.

Di sejumlah wilayah kerja UP3 Palu, pengaturan beban berlangsung sekitar satu hingga empat jam. Sementara itu, beban puncak wilayah UP3 Palu saat ini berada pada kisaran 260โ270 MW dan melayani hampir 700 ribu pelanggan di delapan kabupaten/kota.
Persoalan pasokan juga perlu dilihat dari sisi kondisi hidrologis. Penurunan debit Sungai Poso dan inflow Danau Poso dalam beberapa waktu terakhir berpotensi memengaruhi pola operasi serta kemampuan produksi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Poso.
Pemerintah Kabupaten Poso bersama PLN mencatat muka air Danau Poso turun rata-rata sekitar dua sentimeter per hari. Kondisi ini menjadi perhatian karena puncak musim kemarau diperkirakan masih berpotensi berlangsung hingga Oktober 2026.
Jika penurunan debit dan muka air terus berlanjut, kemampuan pembangkit berbasis air berpotensi ikut terpengaruh. Bagi sistem kelistrikan yang membutuhkan keseimbangan pasokan setiap saat, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keberagaman sumber energi.
โIni harus menjadi evaluasi. Kita memiliki potensi energi yang besar, tetapi ketahanan sistem harus dibangun dengan sumber energi yang beragam. Ketika PLTA mengalami penurunan produksi, harus ada pembangkit lain yang mampu menopang sistem,โ kata Wijaya.
Menurut dia, Sulawesi memiliki peluang besar untuk memperkuat bauran energi melalui pengembangan EBT. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025โ2034, Sulawesi mendapatkan rencana tambahan pembangkit sebesar 10,4 GW. Dari jumlah tersebut, sekitar 7,7 GW berasal dari energi baru terbarukan.
Tambahan kapasitas itu direncanakan sekitar 4,1 GW pada periode 2025โ2029 dan 6,3 GW pada periode 2030โ2034. Secara nasional, RUPTL 2025โ2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 42,6 GW.
Bagi Wijaya, angka tersebut harus diterjemahkan menjadi proyek nyata, bukan sekadar target dalam dokumen perencanaan.
โDengan potensi EBT Sulawesi yang sangat besar, pemerintah perlu memastikan rencana tersebut tidak berhenti sebagai angka dalam dokumen perencanaan. Potensi harus segera dikonversi menjadi pembangkit yang benar-benar menghasilkan listrik dan didukung jaringan transmisi serta distribusi yang memadai,โ ujarnya.
Ia menilai pembangunan pembangkit tidak dapat dipisahkan dari kesiapan jaringan. Penambahan kapasitas pembangkit harus diikuti penguatan transmisi, distribusi dan, dalam jangka panjang, teknologi penyimpanan energi.
Hal itu menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan listrik. Kajian Universitas Tadulako memproyeksikan kebutuhan listrik Kota Palu dalam skenario End-Use meningkat dari 713 GWh pada 2025 menjadi 2.110 GWh pada 2034.
Pada periode yang sama, beban puncak diproyeksikan meningkat dari 136 MW menjadi 401 MW. Kajian tersebut menunjukkan kebutuhan jangka panjang masih dapat dipenuhi melalui sistem interkoneksi Sulbagsel, tetapi pertumbuhan permintaan membutuhkan perencanaan pasokan yang lebih matang.
Bagi dunia usaha, keandalan listrik bukan semata persoalan teknis kelistrikan. Gangguan pasokan secara langsung dapat meningkatkan biaya operasional dan mengganggu produktivitas.
Pelaku usaha, kata Wijaya, harus menyiapkan berbagai sumber listrik cadangan ketika pasokan utama terganggu, mulai dari genset, bahan bakar, baterai hingga perangkat pendukung lainnya.
โSetiap pemadaman ada biaya ekonominya. Pengusaha harus mengeluarkan biaya tambahan untuk genset, bahan bakar dan perawatan. Kalau terjadi berulang, biaya itu akan memengaruhi efisiensi dan daya saing usaha,โ katanya.
Karena itu, APINDO juga mendorong pemerintah membuka ruang yang lebih besar bagi masyarakat dan dunia usaha untuk mengembangkan sumber listrik mandiri, termasuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Menurut Wijaya, pembangkit terdesentralisasi dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengurangi tekanan terhadap sistem PLN, khususnya ketika terjadi peningkatan beban.
โKalau masyarakat dan dunia usaha mampu menghasilkan sebagian kebutuhan listriknya sendiri melalui PLTS, seharusnya itu dipandang sebagai bagian dari solusi. Regulasi perlu memberikan ruang dan insentif agar energi alternatif dapat berkembang,โ ujarnya.
Ia menekankan bahwa pengembangan EBT harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur pendukung. Pembangkit baru akan kehilangan manfaat ekonominya apabila kapasitas transmisi dan distribusi tidak mampu menyalurkan listrik ke wilayah yang membutuhkan.
Bagi Sulawesi Tengah, persoalan tersebut menjadi semakin strategis seiring berkembangnya investasi dan aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
โSulawesi Tengah sedang membutuhkan kepastian energi untuk mendukung investasi dan pertumbuhan ekonomi. Kita memiliki sumber daya EBT yang besar. Tantangannya sekarang adalah bagaimana potensi itu diwujudkan menjadi listrik yang andal, terjangkau dan berkelanjutan,โ kata Wijaya.
Ia mengingatkan agar pembangunan sektor energi tidak berjalan lebih lambat dibandingkan ekspansi ekonomi daerah.
โJangan sampai pertumbuhan investasi berjalan lebih cepat daripada kesiapan sistem energinya,โ tegasnya.(*)