PERJALANAN politik seorang pemimpin sering kali tidak lahir dalam semalam. Ada proses panjang yang ditempuh melalui pengalaman, tantangan, dan keputusan-keputusan yang membentuk karakter kepemimpinan. Bagi masyarakat Sulawesi Tengah, nama Longki Djanggola menjadi salah satu figur yang melewati proses tersebut.
Sebelum dikenal sebagai gubernur dua periode, Longki Djanggola lebih dahulu mengabdikan diri sebagai aparatur sipil negara. Pengalamannya di dunia birokrasi menjadi fondasi dalam memahami tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, hingga dinamika pembangunan daerah.
Puluhan tahun berada di lingkungan pemerintahan membuatnya memahami persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat Sulawesi Tengah, mulai dari keterbatasan infrastruktur, pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga tantangan pemerataan pembangunan di wilayah yang memiliki bentang geografis luas.
Momentum penting dalam perjalanan kariernya datang ketika dipercaya memimpin Kabupaten Parigi Moutong, daerah otonom baru yang saat itu masih berada pada tahap awal pembangunan.
Sebagai bupati, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Pemerintah daerah harus membangun sistem pemerintahan dari awal, melengkapi fasilitas pelayanan publik, membuka akses jalan antarwilayah, hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang sebagian besar bergantung pada sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai program pembangunan mulai dijalankan. Infrastruktur jalan diperluas, pelayanan kesehatan ditingkatkan, sementara sektor pendidikan mendapat perhatian melalui pembangunan sekolah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Keberhasilan membangun fondasi pemerintahan di Parigi Moutong menjadi modal politik yang mengantarkannya ke tingkat provinsi.
Pada Pemilihan Gubernur Sulawesi Tengah 2011, Longki Djanggola memperoleh kepercayaan masyarakat untuk memimpin provinsi tersebut. Bersama wakilnya, ia membawa visi mempercepat pembangunan dan pemerataan ekonomi.
Sebagai gubernur, fokus pemerintahannya diarahkan pada pembangunan infrastruktur sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi. Jalan provinsi, jembatan, irigasi, dan konektivitas antarwilayah menjadi prioritas.
Selain itu, pemerintah provinsi mendorong masuknya investasi di sektor pertambangan, perkebunan, industri pengolahan, dan pariwisata. Kawasan industri di Morowali yang mulai berkembang pada masa itu menjadi salah satu pendorong meningkatnya aktivitas ekonomi Sulawesi Tengah.
Memimpin provinsi dengan kondisi geografis yang luas bukan perkara mudah. Banyak wilayah pedalaman yang sulit dijangkau, sementara kebutuhan masyarakat terhadap infrastruktur terus meningkat.
Longki juga menghadapi berbagai tantangan politik dan ekonomi, termasuk keterbatasan anggaran daerah serta kebutuhan pembangunan yang terus bertambah.
Pada periode keduanya sebagai gubernur, Sulawesi Tengah menghadapi salah satu bencana terbesar dalam sejarah Indonesia, yakni gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala pada 2018.
Pemerintah provinsi bersama pemerintah pusat menangani masa tanggap darurat, rehabilitasi, hingga rekonstruksi. Proses pemulihan menjadi pekerjaan besar yang berlangsung selama bertahun-tahun dan melibatkan berbagai kementerian serta lembaga internasional.
Seperti pemimpin daerah pada umumnya, kepemimpinan Longki Djanggola tidak lepas dari apresiasi maupun kritik.
Di satu sisi, pendukungnya menilai ia berhasil mempercepat pembangunan infrastruktur dan memperluas investasi yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah.
Namun di sisi lain, sejumlah kalangan menilai masih terdapat pekerjaan rumah dalam pemerataan pembangunan, peningkatan kualitas pelayanan publik, pengelolaan lingkungan, hingga pengentasan kemiskinan di beberapa wilayah.
Perbedaan pandangan tersebut menjadi bagian dari dinamika pemerintahan selama dua periode kepemimpinannya.
Setelah mengakhiri masa jabatan sebagai gubernur, Longki Djanggola tidak meninggalkan dunia politik. Pada Pemilu 2024, ia kembali memperoleh mandat masyarakat Sulawesi Tengah sebagai anggota DPR RI.
Di parlemen, ia membawa berbagai aspirasi daerah, mulai dari pembangunan infrastruktur, penguatan sektor pertanian dan perikanan, peningkatan pelayanan pendidikan dan kesehatan, hingga dukungan terhadap percepatan pembangunan Sulawesi Tengah.
Pengalaman panjang sebagai birokrat dan kepala daerah menjadi bekal dalam menjalankan fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran di tingkat nasional.
Lebih dari tiga dekade berada di dunia pemerintahan menjadikan Longki Djanggola salah satu tokoh penting dalam perjalanan pembangunan Sulawesi Tengah.
Jejak kepemimpinannya dapat dilihat melalui berbagai proyek infrastruktur, kebijakan pembangunan daerah, serta upaya mendorong investasi yang terus berkembang hingga kini. Di sisi lain, berbagai kritik terhadap kebijakannya juga menjadi bagian dari evaluasi dalam perjalanan demokrasi.
Perjalanan Longki Djanggola menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi juga tentang kemampuan menghadapi tantangan, mengambil keputusan, dan meninggalkan jejak bagi daerah yang dipimpinnya.
Dari seorang birokrat, bupati, gubernur dua periode, hingga anggota DPR RI, perjalanan karier Longki Djanggola menjadi salah satu kisah politik yang mewarnai sejarah pemerintahan Sulawesi Tengah.(*)