DGL Learning Institute, BPDP dan Ditjenbun Tingkatkan Kompetensi 119 Pekebun Morowali di Palu

waktu baca 4 menit
Senin, 15 Jun 2026 12:21 14 inipalu

PALU, – PT Daya Guna Lestari (DGL) melalui DGL Learning Institute melaksanakan Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Tahun 2026 di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian RI, dan DGL Learning Institute dalam upaya memperkuat kapasitas SDM perkebunan, khususnya bagi pekebun kelapa sawit.

Sebanyak 119 peserta yang berasal dari Kabupaten Morowali mengikuti rangkaian pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan teknis, serta kemampuan pengelolaan perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan.

Adapun pelatihan yang dilaksanakan meliputi Pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Angkatan I, Pelatihan Panen dan Pasca Panen Angkatan I dan II, serta Pelatihan Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit Angkatan I.

Direktur Utama PT Daya Guna Lestari, M. Gema Aliza Putra, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen membangun kualitas SDM perkebunan Indonesia secara langsung di daerah.

“Bagi kami di DGL Learning Institute, kegiatan ini bukan sekadar menjalankan kelas pelatihan. Ini adalah amanah untuk hadir di tengah pekebun dan bersama-sama memperkuat kompetensi SDM perkebunan Indonesia,” ujarnya saat memberikan sambutan di Palu.

Menurut Gema, keberhasilan sektor perkebunan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, bibit unggul, teknologi, maupun penggunaan sarana produksi, tetapi sangat bergantung pada kualitas manusia yang mengelolanya.

“Kebun yang baik lahir dari petani yang paham. Produktivitas meningkat karena ilmu diterapkan. Dan perkebunan yang berkelanjutan lahir dari SDM yang terus belajar,” katanya.

Ia menjelaskan, Program Pengembangan SDM Perkebunan 2026 menjadi salah satu langkah strategis untuk menjawab kebutuhan peningkatan kapasitas pekebun di daerah. Selain menerima materi pembelajaran, peserta juga diarahkan memahami praktik pengelolaan kebun yang aplikatif dan sesuai kebutuhan lapangan.

Pada pelatihan Implementasi ISPO, peserta dibekali pemahaman mengenai prinsip keberlanjutan, tata kelola kebun, legalitas, aspek lingkungan, kelembagaan, serta praktik perkebunan sesuai standar.

“ISPO bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi bagian dari upaya membangun tata kelola perkebunan yang lebih baik, tertib, dan berdaya saing,” jelasnya.

Sementara itu, pelatihan panen dan pasca panen difokuskan pada peningkatan kemampuan peserta dalam menerapkan teknik panen yang tepat, menjaga mutu tandan buah segar (TBS), mengurangi kehilangan hasil, serta memperbaiki praktik pasca panen.

“Panen adalah titik penting yang menentukan hasil dan pendapatan pekebun. Jika dilakukan dengan benar, mutu TBS meningkat dan nilai ekonomi yang diterima petani menjadi lebih optimal,” ujar Gema.

Selain itu, pelatihan teknik pemetaan lokasi perkebunan diarahkan untuk memperkenalkan pengelolaan kebun berbasis data. Peserta dibekali pemahaman mengenai pemetaan lahan, identifikasi batas kebun, hingga pemanfaatan data sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan.

“Ke depan, pengelolaan kebun tidak bisa hanya mengandalkan perkiraan. Kebun harus mulai dikelola berbasis data agar perencanaan lebih terarah dan keputusan lebih tepat,” katanya.

Sebagai lembaga pelatihan, DGL Learning Institute menegaskan komitmennya menjaga kualitas pembelajaran melalui instruktur yang kompeten, materi yang relevan, metode pembelajaran yang mudah dipahami, serta pendekatan praktik yang dekat dengan kondisi peserta.

DGL juga mengembangkan sistem pembelajaran melalui Learning Management System (LMS) yang memungkinkan peserta mengakses materi, mengikuti tindak lanjut pembelajaran, serta terhubung dengan proses monitoring pascapelatihan.

Menurut Gema, pelatihan tidak boleh berhenti pada seremoni penutupan, tetapi harus memiliki keberlanjutan agar ilmu yang diperoleh dapat diterapkan di lapangan.

“Kami tidak ingin peserta hanya hadir, mendengar, lalu pulang membawa sertifikat. Yang terpenting adalah terjadi perubahan cara berpikir, peningkatan kemampuan, dan penerapan ilmu di kebun masing-masing,” tegasnya.

Melalui monitoring pascapelatihan dan kajian kebun, DGL berharap peserta dapat memahami kondisi riil perkebunan masing-masing serta menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 di Palu ini diharapkan memberikan manfaat nyata bagi para pekebun Morowali dalam meningkatkan produktivitas, memperkuat tata kelola, memahami prinsip keberlanjutan, serta meningkatkan daya saing sektor perkebunan nasional.

“Sertifikat bisa disimpan di map, tetapi ilmu harus hidup di kebun. Yang paling penting adalah bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dan membawa perubahan nyata bagi pekebun,” tutup Gema.

Sebagai informasi, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) merupakan Badan Layanan Umum di bawah Kementerian Keuangan RI yang bertugas menghimpun, mengelola, dan menyalurkan dana perkebunan guna mendukung keberlanjutan, produktivitas, dan daya saing komoditas perkebunan nasional.

Sementara DGL Learning Institute merupakan lembaga pelatihan di bawah PT Daya Guna Lestari yang berfokus pada pengembangan kompetensi SDM, khususnya di sektor perkebunan melalui pelatihan teknis, manajerial, sertifikasi, digital learning, dan pendampingan berbasis kebutuhan industri.(*)

LAINNYA