APINDO Sulteng Dorong Warkop Harapan Jadi Bagian dari Warisan Ekonomi Kota Palu

waktu baca 4 menit
Rabu, 26 Agu 2026 01:48 79 ๐——๐—›๐—”๐—ก๐—œ ๐—ฅ.๐—š๐—ข๐— ๐— ๐—ข

PALU,- Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulawesi Tengah mendorong agar usaha-usaha keluarga yang memiliki sejarah panjang, seperti Warkop Harapan di Kota Palu, terus dirawat dan dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan ekonomi, sejarah, dan identitas kota.

Ketua APINDO Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra, menilai Warkop Harapan tidak sekadar menjadi usaha kuliner yang mampu bertahan lintas generasi. Di balik secangkir kopi yang diracik dengan cara tradisional, terdapat jejak sejarah migrasi, pengetahuan kuliner, jaringan sosial, dan perjalanan ekonomi Kota Palu yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

โ€œUsaha yang dilakoni Oscar ini menjadi perhatian bagi APINDO Sulawesi Tengah, terutama bagaimana kita ikut merawat, menyebarluaskan, dan mendiseminasikan usaha-usaha yang memiliki latar belakang historis yang kuat seperti ini agar terus hidup dan menjadi bagian dari perkembangan kota,โ€ kata Wijaya.

Warkop Harapan merupakan usaha keluarga yang telah diwariskan selama empat generasi. Usaha tersebut berawal dari Tan A Kui, yang mendirikan Warung Kopi Harapan pada 1953 di kawasan Ujuna, Kota Palu.

Kini, usaha tersebut dilanjutkan Oscar, generasi keempat keluarga. Ia mempertahankan racikan kopi, cara penyeduhan, hingga penggunaan arang kayu bakar yang menjadi ciri khas warung tersebut.

Setiap pagi, arang kembali dinyalakan. Air mendidih dituangkan melalui saringan ke dalam cerek kuningan sebelum kopi disajikan kepada pelanggan. Biji kopi yang digunakan berasal dari petani di wilayah Kulawi, Napu, dan Palolo, lalu disangrai sendiri oleh keluarga Oscar.

Bagi APINDO, keberadaan usaha seperti Warkop Harapan menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi kota tidak selalu harus ditandai dengan munculnya model usaha baru. Usaha yang telah bertahan puluhan tahun juga menyimpan nilai ekonomi dan sejarah yang penting bagi perkembangan sebuah daerah.

โ€œPerkembangan kota tidak selalu harus ditandai oleh munculnya bangunan baru, pusat perdagangan baru, atau model usaha yang mengikuti tren,โ€ ujar Wijaya.

Menurutnya, usaha-usaha yang memiliki perjalanan panjang menyimpan pengalaman, pengetahuan, jaringan sosial, serta ingatan kolektif yang dapat menjadi bagian dari identitas Kota Palu.

Karena itu, merawat usaha bersejarah tidak berarti mempertahankannya dalam bentuk lama secara kaku. Sebaliknya, nilai historis yang terkandung di dalamnya perlu dikenali, dikembangkan, dan diwariskan agar tetap relevan ketika kota terus berubah.

Di Warkop Harapan, nilai tersebut masih terlihat dalam aktivitas sehari-hari. Pejabat, pebisnis, wartawan, hingga masyarakat umum duduk berdampingan menikmati kopi dan makanan tradisional seperti nasi kuning, telur setengah matang, jomu-jomu, roti bakar selai kaya, dan Roti Lamadjido.

Roti bakar yang dicampur telur kocok itu bahkan memiliki cerita tersendiri. Menu tersebut kerap dipesan Wali Kota Palu periode 1995โ€“2000, Rully Lamadjido, hingga kemudian dikenal pelanggan dengan nama Roti Lamadjido.

Di tengah menjamurnya kedai kopi modern di Kota Palu, Oscar memilih mempertahankan karakter warung yang diwariskan keluarganya.

โ€œKami sudah punya pelanggan sendiri. Orang datang ke sini bukan cari suasana kekinian, tapi cari rasa yang sama seperti puluhan tahun lalu,โ€ katanya.

Bagi Oscar, mempertahankan rasa merupakan bagian dari menjaga warisan keluarga.

โ€œKami tidak mengubah resep dari zaman kakek. Yang berubah paling-paling cuma jumlah gelas yang harus kami siapkan tiap pagi,โ€ ujarnya.

Di balik keteguhan mempertahankan resep tersebut terdapat perjalanan panjang keluarga Tan A Kui. Menurut cerita keluarga, A Kui berasal dari Guangdong, Cina selatan, dan diperkirakan tiba di Palu sekitar dekade 1940-an.

Pengetahuan meracik kopi yang kemudian menjadi ciri khas keluarganya disebut diperoleh A Kui ketika kembali ke Cina dan belajar dari tradisi Hainan. Meski memiliki kemiripan dengan tradisi kopi Hainan di Asia Tenggara, hubungan langsung tersebut masih berdasarkan cerita keluarga dan belum didukung dokumen sejarah yang dapat memastikan kapan dan dari siapa teknik tersebut dipelajari.

Jejak migrasi dan pengetahuan kuliner itu kemudian bertemu dengan bahan baku lokal Sulawesi Tengah. Biji kopi dari pegunungan Kulawi, Napu, dan Palolo diproses oleh keluarga dan disajikan dengan teknik yang dipertahankan lintas generasi.

Bagi APINDO, perpaduan sejarah, tradisi, dan aktivitas ekonomi tersebut membuat Warkop Harapan lebih dari sekadar tempat minum kopi.

Ia menjadi salah satu ruang tempat sejarah Kota Palu terus hidup melalui praktik sehari-hari.

Setiap pagi, ketika arang kembali menyala di bawah belanga dan kopi mengalir dari cerek kuningan ke gelas pelanggan, perjalanan yang dimulai Tan A Kui lebih dari tujuh dekade lalu masih terus diseduhmenjadi bagian dari cerita ekonomi dan identitas Kota Palu.(*)

๐——๐—›๐—”๐—ก๐—œ ๐—ฅ.๐—š๐—ข๐— ๐— ๐—ข

PODCAST๐ŸŽ™PALU

LAINNYA