Di Bawah Bayang Longsor Pascagempa Sigi, Warga Lembantongoa Menata Kembali Harapan Bersama PSI Peduli

waktu baca 5 menit
Senin, 22 Jun 2026 00:57 49 inipalu

DARI kejauhan, bekas longsoran masih terlihat jelas membelah lereng pegunungan di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi. Tanah yang dulu hijau kini berubah menjadi guratan cokelat panjang, seperti jejak luka yang ditinggalkan alam.

Bagi warga setempat, pemandangan itu bukan sekadar perubahan bentang alam. Ia menjadi pengingat yang terus hidup tentang detik-detik ketika bumi berguncang begitu kuat pada Rabu, 17 Juni 2026.

Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah bukan hanya merobohkan tembok rumah dan meretakkan bangunan. Lebih dari itu, gempa meninggalkan rasa takut yang belum sepenuhnya pergi dari hati masyarakat.

Di Desa Lembantongoa, dampaknya terasa berlapis.

Selain menyebabkan kerusakan pada ratusan rumah warga, gempa juga memicu longsor di kawasan perbukitan yang berada tidak jauh dari permukiman. Material tanah yang turun dari lereng gunung menambah kecemasan warga yang sejak awal sudah diliputi kepanikan.

Lukman, salah seorang warga yang kini masih bertahan di sekitar lokasi terdampak, mengaku momen saat gempa terjadi menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.

“Saat gempa terjadi, kami semua berlarian keluar rumah. Getarannya sangat kuat dan berlangsung cukup lama. Banyak warga menangis karena teringat peristiwa tahun 2018,” ujarnya saat ditemui di Posko Bencana DPW PSI Sulteng, Minggu (21/6/2026).

Bagi masyarakat Sigi, ingatan tentang gempa besar 2018 memang belum sepenuhnya hilang. Karena itu, ketika guncangan kembali datang, yang muncul bukan hanya kepanikan sesaat, tetapi juga luka lama yang kembali terbuka.

Data sementara menunjukkan sekitar 200 rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda-beda. Ada rumah yang mengalami retakan di bagian dinding dan fondasi, ada pula yang rusak berat hingga membuat penghuninya harus mengungsi.

Namun bagi sebagian warga, yang paling berat bukanlah kehilangan bangunan.

Yang paling sulit dipulihkan adalah rasa aman.

Ketika malam tiba, suasana desa menjadi lebih sunyi dari biasanya. Sebagian warga memilih tidur di luar rumah atau mendirikan tenda darurat karena khawatir gempa susulan terjadi.

Anak-anak menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.

Seorang ibu rumah tangga di lokasi pengungsian menceritakan bagaimana anak-anak di desanya masih sulit melupakan kejadian tersebut.

“Kalau malam mereka sering terbangun dan menangis. Begitu mendengar suara keras sedikit saja, mereka langsung takut dan mencari orang tuanya. Yang mereka butuhkan sekarang bukan hanya makanan, tetapi juga rasa aman,” tuturnya.

Di tengah kondisi itu, bantuan yang datang tidak hanya soal logistik.

Ada kebutuhan lain yang sama pentingnya kehadiran, perhatian, dan ruang untuk kembali merasa tenang.

Melalui program PSI Peduli, relawan mulai membuka posko kemanusiaan di wilayah terdampak. Kehadiran mereka tidak hanya membawa paket bantuan, tetapi juga mencoba menghadirkan kembali semangat yang sempat runtuh bersama guncangan gempa.

Sebanyak 2.000 paket bantuan disalurkan kepada warga di lima dusun Desa Lembantongoa.

Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua DPW PSI Sulawesi Tengah, Dr Agus Lamakarate, bersama tim relawan yang turun ke lapangan.

Distribusi dilakukan secara bertahap dengan melibatkan perangkat desa dan tokoh masyarakat agar bantuan benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan.

Namun di balik paket bantuan yang dibagikan, ada satu hal lain yang menjadi perhatian utama yakni pemulihan batin.

Relawan membuka dapur umum yang setiap hari menyediakan makanan bagi warga terdampak, terutama anak-anak, lansia, dan keluarga yang masih fokus membersihkan rumah mereka.

Saat waktu makan tiba, suasana yang sebelumnya dipenuhi kecemasan perlahan berubah.

Anak-anak mulai duduk bersama.

Mereka tertawa.

Mereka kembali bercanda.

Hal-hal sederhana yang beberapa hari sebelumnya terasa sulit dilakukan.

Tidak berhenti di sana, relawan juga menggelar trauma healing untuk anak-anak.

Melalui kegiatan menggambar, bermain bersama, bernyanyi, dan sesi interaktif, anak-anak diajak kembali merasakan bahwa mereka tidak sendiri menghadapi situasi ini.

Tangan-tangan kecil yang sebelumnya gemetar mulai kembali berani memegang pensil warna.

Wajah yang sempat murung perlahan kembali menunjukkan senyum.

Suara tawa mulai terdengar di antara tenda dan bangunan yang retak.

Koordinator relawan PSI Peduli, Moh Maskur, mengatakan pemulihan pascabencana tidak bisa hanya berhenti pada pembangunan fisik.

Menurutnya, ada luka yang tidak terlihat, tetapi harus dipulihkan dengan kesabaran dan pendampingan.

“Ketika bencana terjadi, yang rusak bukan hanya rumah dan fasilitas umum. Ada trauma yang dirasakan masyarakat, terutama anak-anak. Karena itu kami hadir tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga memberikan pendampingan agar mereka kembali memiliki semangat dan harapan,” ujarnya.

Warga pun menyambut baik kehadiran relawan.

Menurut mereka, perhatian terhadap kondisi psikologis masyarakat menjadi hal yang sangat dibutuhkan di tengah proses pemulihan.

“Kami bersyukur ada PSI yang datang membantu. Anak-anak yang sebelumnya murung sekarang mulai kembali ceria setelah mengikuti kegiatan trauma healing. Ini sangat berarti bagi kami,” kata salah satu warga.

Meski demikian, perjalanan menuju pemulihan masih panjang.

Warga berharap rehabilitasi dan rekonstruksi dapat segera berjalan agar kehidupan perlahan kembali normal. Tidak hanya perbaikan rumah, tetapi juga pendampingan sosial dan psikologis yang berkelanjutan.

Karena sesungguhnya, setelah bencana berlalu, yang tersisa bukan hanya puing.

Ada rasa takut yang harus dipeluk perlahan hingga berubah menjadi keberanian.

Dan di Desa Lembantongoa hari ini, di bawah lereng gunung yang masih menyimpan bekas longsor, senyum anak-anak yang mulai kembali merekah menjadi tanda kecil bahwa harapan belum hilang.

Mereka sedang belajar bangkit. Dan di tengah keterbatasan, kepedulian menjadi salah satu alasan mengapa mereka percaya hari esok masih bisa dibangun kembali.(*)

LAINNYA