Buya Subi Festival Jadi Langkah Promosi Tenun Donggala ke Dunia

waktu baca 2 menit
Rabu, 8 Jul 2026 06:16 46 inipalu

DONGGALA – Buya Subi Festival 2026 menjadi momentum memperkuat promosi tenun khas Donggala ke pasar internasional. Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., saat membuka festival bertema Handmade for the Earth di Pantai Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Selasa (7/7/2026).

Wakil Gubernur mengatakan, festival ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga bukti bahwa Sulawesi Tengah memiliki kain tenun berkualitas tinggi dengan nilai filosofi yang kuat dan mampu bersaing di industri fesyen berkelanjutan.

Untuk memastikan warisan tersebut tetap terjaga, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah akan membahas pembentukan jurusan tenun di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Upaya itu dinilai penting karena mayoritas perajin tenun saat ini sudah berusia lanjut.

“Jangan sampai tenun kita hilang karena para pengrajinnya didominasi generasi yang sudah lanjut usia. Regenerasi harus dilakukan agar warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar festival tidak berhenti sebagai ajang pameran, tetapi mampu meningkatkan minat masyarakat menggunakan produk tenun lokal sehingga memberi manfaat ekonomi bagi para pengrajin.

Selain mempertahankan kualitas, para perajin juga didorong menghadirkan desain yang lebih modern tanpa meninggalkan ciri khas budaya Donggala.

“Pemerintah ingin kualitas terus meningkat dengan desain yang lebih modern, tetapi tetap mempertahankan identitas budaya Donggala,” katanya.

Wakil Gubernur berharap Buya Subi Festival melahirkan kolaborasi yang memperkuat sektor pariwisata, memberdayakan UMKM, sekaligus membuka akses pasar global bagi produk unggulan Sulawesi Tengah. Kehadiran CEO Eco Fashion Week Australia (EFWA), Zuhal Kuvan Mills, dinilai menjadi peluang strategis untuk memperkenalkan tenun Donggala ke tingkat internasional.

“Mari jadikan festival ini sebagai ruang belajar, ruang berkarya, ruang berkolaborasi, sekaligus ruang membangun masa depan ekonomi kreatif Sulawesi Tengah yang inklusif dan berkelanjutan,” tutupnya. (*)

LAINNYA