Menembus Jalan Berbatu Demi Harapan: Perjalanan Jurnalis TAMEME Mengantar Bantuan ke Dusun Terpencil Korban Gempa Sigi

waktu baca 4 menit
Minggu, 28 Jun 2026 08:05 187 inipalu

SIGI,- Pagi itu, udara pegunungan di Kecamatan Palolo masih terasa dingin ketika iring-iringan kendaraan mulai bergerak meninggalkan pusat Desa Lembantongoa. Di bak kendaraan, puluhan paket sembako, perlengkapan memasak, hingga susu dan cokelat untuk anak-anak tersusun rapi. Tujuannya bukan sekadar mengantar bantuan, tetapi membawa secercah harapan bagi warga yang masih berjuang bangkit setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 mengguncang Kabupaten Sigi.

Perjalanan menuju Dusun Tokelemo dan Dusun Lewonu bukanlah perjalanan yang mudah. Jalan rabat beton hanya mengantar rombongan hingga kawasan pusat desa. Setelah itu, medan berubah menjadi jalan tanah berbatu dengan tanjakan curam yang memaksa kendaraan melaju perlahan. Di beberapa titik, roda kendaraan harus berjuang mencari pijakan di jalan yang licin dan tidak rata.

Di tengah perjalanan, satu kendaraan pengangkut bantuan bahkan mengalami ban bocor. Rombongan berhenti sejenak di tengah sunyinya kawasan pegunungan. Namun, kendala itu tak mengurangi semangat para relawan. Setelah ban diganti, perjalanan kembali dilanjutkan menuju dua dusun yang selama ini dikenal sebagai wilayah dengan akses paling sulit di Desa Lembantongoa.

Sesampainya di Dusun Tokelemo, pemandangan yang terlihat menyisakan duka. Sejumlah rumah masih mengalami kerusakan akibat guncangan gempa. Sebagian warga masih beraktivitas di sekitar rumah yang retak, sementara lainnya mulai berusaha membersihkan puing dan memperbaiki tempat tinggal mereka dengan kemampuan seadanya.

Meski demikian, wajah-wajah lelah itu perlahan berubah menjadi senyum ketika rombongan Komunitas Jurnalis TAMEME tiba membawa bantuan.

Satu per satu paket sembako dibagikan kepada keluarga terdampak. Isinya sederhana, namun sangat berarti: beras, minyak goreng, gula pasir, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Selain itu, warga juga menerima belanga goreng dan panci untuk membantu memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari. Tak lupa, paket berisi susu dan cokelat dibagikan khusus kepada anak-anak yang tampak antusias menyambut kedatangan rombongan.

Bagi mereka, bantuan tersebut bukan hanya soal nilai barang yang diterima. Kehadiran orang-orang yang datang dari luar kampung menjadi penguat bahwa mereka tidak sedang menghadapi musibah ini sendirian.

Perwakilan Komunitas Jurnalis TAMEME, Wawan Coxi, mengatakan aksi kemanusiaan tersebut merupakan wujud kepedulian para jurnalis kepada masyarakat yang sedang tertimpa bencana.

“Kami datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga ingin menunjukkan bahwa warga terdampak gempa tidak sendiri. Teman-teman di Komunitas TAMEME berupaya menggalang dukungan agar bantuan ini bisa sampai kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.

Menurutnya, Dusun Tokelemo dan Dusun Lewonu sengaja dipilih karena berada di wilayah yang relatif jauh dari pusat desa sehingga membutuhkan perhatian lebih dibanding wilayah lain yang aksesnya lebih mudah dijangkau.

“Kami sengaja memilih dusun yang aksesnya paling sulit. Semoga bantuan ini dapat sedikit meringankan beban warga, terutama mereka yang rumahnya mengalami rusak berat,” katanya.

Perjalanan yang penuh tantangan justru semakin menguatkan tekad para relawan. Mohammad Iqbal mengakui medan menuju lokasi memang cukup berat. Kendaraan yang mengalami ban bocor menjadi salah satu bukti bahwa menyalurkan bantuan ke wilayah terpencil membutuhkan perjuangan lebih.

“Medannya memang cukup berat. Kendaraan kami bahkan sempat mengalami ban bocor. Namun, semua itu tidak mengurangi semangat kami untuk memastikan bantuan tiba langsung di tangan warga yang membutuhkan,” tuturnya.

Iqbal menegaskan, seluruh bantuan yang disalurkan merupakan amanah dari para donatur yang mempercayakan Komunitas TAMEME sebagai penyalur bantuan kepada masyarakat terdampak gempa.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh donatur yang telah mempercayakan bantuannya melalui Komunitas TAMEME. Alhamdulillah, amanah tersebut telah kami salurkan kepada masyarakat terdampak gempa di Dusun Tokelemo dan Dusun Lewonu. Semoga menjadi amal kebaikan bagi semua pihak yang telah berbagi,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses pemulihan pascabencana masih membutuhkan waktu panjang. Karena itu, Komunitas TAMEME tetap membuka ruang bagi masyarakat, komunitas, maupun berbagai pihak yang ingin ikut berpartisipasi membantu warga Sigi.

“Apabila masih ada masyarakat, komunitas, maupun pihak lain yang ingin berdonasi untuk warga terdampak gempa di Kabupaten Sigi, Komunitas TAMEME siap membantu menyalurkan bantuan tersebut secara langsung kepada masyarakat yang membutuhkan. Kami berharap semangat gotong royong dan kepedulian ini terus terjaga hingga masa pemulihan benar-benar selesai,” pungkasnya.

Di penghujung kegiatan, suasana haru begitu terasa. Warga berbaris dengan tertib menerima bantuan, sementara anak-anak tampak menggenggam erat paket susu dan cokelat yang mereka terima. Senyum dan ucapan terima kasih mengiringi langkah para relawan saat berpamitan meninggalkan dusun.

Perjalanan pulang tetap harus melewati jalan berbatu yang sama. Namun, rasa lelah seakan terbayar oleh senyum warga yang kini sedikit lebih tenang menghadapi hari-hari setelah bencana.

Di tengah keterbatasan akses dan beratnya medan pegunungan, aksi sederhana Komunitas Jurnalis TAMEME menjadi pengingat bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya. Ketika jalan menuju sebuah dusun begitu sulit dilalui kendaraan, kepedulian justru menjadi jembatan yang mampu menjangkau mereka yang paling membutuhkan.(*)

LAINNYA