Perjalanan Kemanusiaan Swiss-Belhotel Silae Palu untuk Penyintas Gempa Sigi SIGI,- Langit pagi masih menyisakan embun ketika rombongan Swiss-Belhotel Silae Palu memulai perjalanan menuju Kamarora dan Nokilalaki, Kabupaten Sigi. Jalan yang membelah perbukitan hijau itu tampak tenang. Namun di balik ketenangan alam yang indah, tersimpan kisah pilu yang masih dirasakan ratusan warga setelah gempa bumi berkekuatan 6,7 magnitudo mengguncang Palu dan sekitarnya pada 16 Juni 2026 lalu.
Gempa yang datang tanpa peringatan itu mengubah banyak hal hanya dalam hitungan detik. Rumah-rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung keluarga mengalami kerusakan. Sebagian warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan bertahan di lokasi yang dianggap lebih aman. Anak-anak kehilangan ruang bermain yang biasa mereka datangi setiap hari, sementara para orang tua harus memikirkan bagaimana melanjutkan kehidupan di tengah ketidakpastian.
Seminggu setelah gempa berlalu, luka itu memang mulai mengering. Namun rasa cemas dan trauma masih terlihat jelas di wajah sebagian warga.
Di tengah kondisi tersebut, kepedulian datang dari berbagai arah.
Salah satunya dari keluarga besar Swiss-Belhotel Silae Palu yang menggelar aksi pengumpulan bantuan kemanusiaan untuk masyarakat terdampak di Kamarora dan Nokilalaki. Bagi mereka, bencana yang menimpa sebagian masyarakat Sulawesi Tengah bukanlah persoalan yang harus dihadapi sendirian.
Perjalanan menuju lokasi penyaluran bantuan bukan sekadar perjalanan biasa. Di dalam kendaraan yang membawa logistik, tersimpan harapan, doa, dan solidaritas dari banyak orang yang ikut menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu sesama.
Sesampainya di lokasi, suasana haru langsung terasa.
Sejumlah warga menyambut rombongan dengan senyum yang sederhana, namun penuh makna. Senyum yang seolah berkata bahwa kehadiran orang-orang yang peduli mampu menghadirkan kekuatan baru di tengah cobaan yang sedang mereka hadapi.
Anak-anak berlarian mendekati kendaraan bantuan. Beberapa di antara mereka tampak masih malu-malu. Namun perlahan, tawa kecil mulai terdengar. Bagi orang dewasa, mungkin bantuan yang datang adalah kebutuhan pokok untuk bertahan hidup. Namun bagi anak-anak, perhatian dan kehadiran orang-orang yang datang menjenguk mereka juga merupakan obat yang membantu memulihkan rasa aman yang sempat terguncang.
Di salah satu titik penyaluran bantuan, sejumlah warga berkumpul untuk menerima paket bantuan. Tidak sedikit yang menyampaikan rasa syukur karena masih ada banyak pihak yang mengingat kondisi mereka.
Momen-momen sederhana itulah yang membuat perjalanan kemanusiaan tersebut terasa begitu bermakna.
“Setiap donasi yang diberikan sangat berarti bagi saudara-saudara kita di Kamarora dan Nokilalaki yang sedang berjuang memulihkan diri pasca-gempa. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan menyisihkan bantuannya untuk meringankan beban para korban,” ujar manajemen Swiss-Belhotel Silae Palu.
Bagi Swiss-Belhotel Silae Palu, aksi sosial ini bukan sekadar kegiatan seremonial ataupun agenda perusahaan semata. Ini adalah bentuk kepedulian yang lahir dari kesadaran bahwa manusia pada dasarnya saling membutuhkan, terlebih ketika musibah datang menghampiri.
General Manager Swiss-Belhotel Silae Palu, Firman S. Permana, mengatakan bahwa kehadiran langsung di tengah masyarakat terdampak merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk selalu dekat dengan lingkungan sekitar.
Menurutnya, bencana sering kali mengajarkan banyak hal tentang arti kehidupan dan pentingnya kebersamaan.
āBencana mengajarkan kita bahwa kepedulian adalah kekuatan terbesar yang dimiliki manusia. Ketika satu daerah mengalami musibah, sudah seharusnya kita hadir untuk saling menguatkan dan membantu mereka bangkit kembali. Kami percaya bahwa sekecil apa pun bantuan yang diberikan dapat menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang membutuhkan,ā ujar Firman.
Firman menambahkan bahwa bantuan yang disalurkan mungkin tidak dapat menghapus seluruh kesulitan yang sedang dihadapi masyarakat. Namun setidaknya, bantuan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendiri.
Bahwa ada banyak orang yang turut merasakan kesedihan yang mereka alami.
Bahwa ada banyak tangan yang siap membantu mereka bangkit kembali.
Di tengah aktivitas penyaluran bantuan, rombongan Swiss-Belhotel Silae Palu juga meluangkan waktu untuk berbincang dengan warga. Mereka mendengarkan cerita tentang malam saat gempa terjadi, tentang kepanikan yang dirasakan keluarga, hingga tentang harapan-harapan sederhana yang kini mereka genggam untuk masa depan.
Cerita-cerita itu tidak selalu disampaikan dengan kata-kata panjang.
Kadang hanya melalui tatapan mata yang masih menyimpan trauma.
Kadang melalui senyum yang berusaha tetap tegar.
Kadang melalui ucapan syukur yang lirih.
Marketing Communication Swiss-Belhotel Silae Palu, Thysa, mengatakan bahwa selain memberikan bantuan, pihaknya juga ingin hadir untuk memberikan dukungan moril kepada masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.
āKami ingin melihat langsung kondisi masyarakat, berdoa bersama, dan saling menguatkan. Kami ingin mengingatkan bahwa segala cobaan bisa terjadi kepada siapa saja dengan bentuk yang berbeda-beda. Semoga masyarakat tetap tabah, tawakal, dan terus memiliki harapan untuk bangkit kembali,ā ujarnya.
Di sela-sela kegiatan, doa bersama pun dipanjatkan.
Tidak ada kemewahan dalam pertemuan itu.
Tidak ada panggung besar.
Tidak ada protokoler yang berlebihan.
Hanya ada sekelompok orang yang duduk bersama, menundukkan kepala, dan memanjatkan harapan yang sama semoga keadaan segera membaik.
Semoga rasa takut perlahan menghilang.
Semoga rumah-rumah yang rusak segera diperbaiki.
Semoga anak-anak dapat kembali belajar dengan tenang.
Semoga masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan mereka seperti sedia kala.
Gempa bumi memang meninggalkan luka.
Namun sejarah selalu menunjukkan bahwa masyarakat Sulawesi Tengah memiliki daya tahan yang luar biasa. Mereka pernah menghadapi berbagai ujian dan berhasil bangkit. Semangat gotong royong yang menjadi ciri masyarakat Indonesia kembali terlihat dalam masa-masa sulit seperti ini.
Bantuan yang datang dari berbagai pihak menjadi bukti bahwa kemanusiaan masih hidup dan terus bergerak.
Swiss-Belhotel Silae Palu berharap aksi kecil yang mereka lakukan dapat menjadi bagian dari upaya besar untuk membantu masyarakat melewati masa pemulihan.
āKami segenap keluarga besar Swiss-Belhotel Silae Palu menyampaikan rasa duka yang mendalam serta simpati setulus-tulusnya kepada seluruh korban dan keluarga yang terdampak. Kami turut merasakan kesedihan yang dialami oleh saudara-saudara kita di Kamarora dan Nokilalaki. Besar harapan kami agar seluruh masyarakat yang terdampak diberikan ketabahan dan kekuatan, serta proses pemulihan pasca-bencana dapat berjalan dengan lancar dan situasi segera kembali normal,ā demikian pernyataan manajemen.
Menjelang sore, rombongan perlahan meninggalkan Kamarora dan Nokilalaki. Bantuan telah disalurkan. Doa telah dipanjatkan. Pelukan hangat dan senyum penguatan telah dibagikan.
Namun ada satu hal yang tetap tinggal di sana.
Harapan.
Harapan bahwa hari-hari yang lebih baik akan segera datang.
Harapan bahwa anak-anak akan kembali bermain tanpa rasa takut.
Harapan bahwa keluarga-keluarga yang terdampak dapat kembali menata kehidupan mereka.
Dan harapan bahwa di setiap musibah, selalu ada tangan-tangan tulus yang datang untuk mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar sendirian.
Dari sebuah hotel di tepi Teluk Palu hingga lereng pegunungan Nokilalaki, perjalanan kemanusiaan itu mungkin hanya berlangsung sehari. Namun maknanya akan tinggal jauh lebih lama, tersimpan dalam ingatan mereka yang menerima bantuan dan mereka yang memberikannya.
Karena pada akhirnya, kemanusiaan bukan tentang seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan tentang kesediaan untuk hadir ketika sesama sedang membutuhkan.(*)