
PALU,- Bank Indonesia menegaskan pentingnya memperkuat daya tahan ekonomi daerah di tengah tuntutan percepatan pertumbuhan ekonomi. Digitalisasi dan penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai menjadi salah satu kunci untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga berkelanjutan dan memberi dampak lebih luas kepada masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam Posalia Sulteng Digifest 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Tengah di Atrium Palu Grand Mall, Selasa (11/8/2026).
Mengusung tema “Akselerasi Ekonomi Daerah dan Digitalisasi untuk Pertumbuhan Berkelanjutan”, kegiatan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong penguatan ekonomi daerah melalui digitalisasi, akses pembiayaan, pengembangan UMKM, serta perluasan pasar.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido yang mewakili Gubernur Sulawesi Tengah, Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman, Anggota Komisi XI DPR RI Muhidin Muhammad Sayed, serta Kepala KPwBI Sulawesi Tengah Muhammad Irfan Soekarna.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman menekankan bahwa mengejar pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup.
Menurutnya, pertumbuhan harus berjalan beriringan dengan penguatan daya tahan ekonomi. Sebab, ekonomi daerah akan menghadapi berbagai dinamika dan tantangan yang dapat memengaruhi keberlanjutan pertumbuhan.
“Pertumbuhan ekonomi tidak hanya perlu didorong, tetapi juga harus dibarengi dengan penguatan daya tahan ekonomi,” kata Aida.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam Posalia Sulteng Digifest 2026. Penguatan ekonomi tidak semata-mata berbicara mengenai peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi juga bagaimana pelaku usaha dan masyarakat memiliki kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan berkembang menghadapi perubahan.
UMKM bukan hanya menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan usaha dan menjaga perputaran ekonomi di tingkat daerah.
Karena itu, penguatan UMKM membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Pelaku usaha tidak cukup hanya diberikan akses modal, tetapi juga membutuhkan peningkatan kapasitas, pemanfaatan teknologi, akses pasar, hingga pendampingan yang berkelanjutan.
Perubahan perilaku masyarakat yang semakin bergeser ke ekosistem digital membuat pelaku usaha dituntut untuk beradaptasi.
Digitalisasi membuka peluang bagi UMKM untuk menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasar konvensional.
Produk lokal Sulawesi Tengah, misalnya, memiliki peluang untuk dipasarkan tidak hanya kepada konsumen di Palu dan daerah sekitarnya, tetapi juga ke berbagai wilayah lain melalui platform digital.
Namun, transformasi digital tidak berhenti pada penggunaan media sosial atau pemasaran secara daring.
Digitalisasi juga mencakup sistem pembayaran, pencatatan transaksi, pengelolaan keuangan, pemanfaatan data, hingga kemampuan membangun strategi pemasaran yang lebih efektif.
Dengan demikian, digitalisasi dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saing UMKM.
Selain digitalisasi, pembiayaan menjadi aspek penting dalam mendorong UMKM berkembang.
Banyak pelaku usaha memiliki produk dan pasar, tetapi masih menghadapi keterbatasan modal ketika hendak meningkatkan kapasitas produksi atau memperluas usahanya.
Karena itu, penguatan akses UMKM terhadap lembaga keuangan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem usaha yang sehat.
UMKM juga perlu didorong untuk meningkatkan kualitas tata kelola usaha. Administrasi yang tertib, pencatatan keuangan yang baik, serta pemisahan antara keuangan pribadi dan usaha akan membantu meningkatkan kesiapan pelaku UMKM dalam mengakses pembiayaan formal.
Pada titik inilah digitalisasi dan pembiayaan memiliki hubungan yang erat.
Digitalisasi dapat membantu menciptakan rekam transaksi dan tata kelola usaha yang lebih baik. Sementara akses pembiayaan dapat memberikan ruang bagi UMKM untuk meningkatkan skala usaha.
KPwBI Sulawesi Tengah menempatkan Posalia Sulteng Digifest 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Kehadiran pemerintah daerah, Bank Indonesia, DPR RI, lembaga keuangan, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi daerah membutuhkan kerja bersama.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido hadir mewakili Gubernur Sulawesi Tengah dalam kegiatan tersebut.
Sementara Anggota Komisi XI DPR RI Muhidin Muhammad Sayed turut hadir dalam agenda yang bersinggungan langsung dengan penguatan sektor ekonomi dan keuangan daerah.
Sinergi tersebut menjadi penting karena masing-masing pihak memiliki peran berbeda. Pemerintah menciptakan kebijakan dan ekosistem, lembaga keuangan membuka akses pembiayaan, Bank Indonesia memperkuat kebijakan dan ekosistem ekonomi serta pembayaran, sementara pelaku usaha menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi di lapangan.
Sulawesi Tengah memiliki potensi besar untuk mengembangkan UMKM berbasis produk lokal.
Produk pangan olahan, kerajinan, fesyen, ekonomi kreatif, hingga berbagai komoditas unggulan daerah memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Namun, potensi tersebut membutuhkan penguatan dari sisi kualitas, kemasan, pemasaran, kontinuitas produksi, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.
Digitalisasi dapat menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan produk lokal dengan konsumen yang lebih luas.
Pelaku UMKM yang mampu menggabungkan kualitas produk dengan strategi pemasaran digital berpeluang memiliki daya saing lebih kuat.
Karena itu, agenda seperti Posalia Sulteng Digifest 2026 tidak semestinya dipandang hanya sebagai kegiatan promosi atau pameran. Lebih jauh, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan pelaku usaha dengan dukungan pemerintah, lembaga keuangan, teknologi, dan pasar.
Tema yang diangkat dalam Posalia Sulteng Digifest 2026 memiliki pesan yang cukup jelas: akselerasi ekonomi daerah harus berjalan bersama digitalisasi.
Pertumbuhan ekonomi yang cepat tetapi tidak ditopang daya tahan berisiko menghadapi tekanan ketika terjadi perubahan ekonomi.
Sebaliknya, ekonomi yang memiliki fondasi kuat, pelaku usaha yang adaptif, akses pembiayaan yang terbuka, serta pemanfaatan teknologi yang semakin luas akan memiliki kemampuan lebih besar untuk menghadapi perubahan.
Karena itu, digitalisasi tidak boleh berhenti sebagai jargon.
Teknologi harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi pelaku usaha dan masyarakat—mulai dari transaksi yang lebih mudah, pemasaran yang lebih luas, pengelolaan usaha yang lebih tertib, hingga terbukanya akses pembiayaan.
Posalia Sulteng Digifest 2026 menjadi salah satu momentum untuk memperkuat agenda tersebut.
Bagi Sulawesi Tengah, tantangannya kini bukan sekadar bagaimana menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi bagaimana memastikan pertumbuhan tersebut mampu menciptakan peluang yang lebih luas, memperkuat UMKM, meningkatkan daya saing daerah, dan bertahan menghadapi perubahan.
Dengan kolaborasi yang konsisten antara pemerintah, Bank Indonesia, lembaga keuangan, dunia usaha, dan masyarakat, digitalisasi diharapkan tidak hanya mengubah cara bertransaksi, tetapi juga menjadi pengungkit baru bagi ekonomi Sulawesi Tengah.(*)
