
PALU,โ Ketua DPP APINDO Sulawesi Tengah (Sulteng), Wijaya Chandra, mendorong daerah mulai menyiapkan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang tidak bergantung pada industri ekstraktif.
Gagasan tersebut disampaikan Wijaya dalam International Community Service Consortium, rangkaian Tadulako International Conference on Economic and Business (TICEB) ke-4 2026 di Best Western Coco Palu, Selasa 6/10/26.
Dalam forum bertema โNavigating Economic Transformation Through Innovation, Governance and Sustainabilityโ, Wijaya memaparkan konsep tata kelola ekonomi restoratif berbasis komunitas melalui penguatan inovasi produk lokal dan UMKM berkelanjutan.
Menurut Wijaya, Sulteng memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Namun, ketergantungan terhadap industri ekstraktif perlu dikurangi karena sektor tersebut memiliki keterbatasan.
โKita tidak bisa berharap terus dari industri ekstraktif, karena industri ekstraktif juga ada masanya akan habis,โ kata Wijaya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi ABG (Academic, Business, Government) untuk mengembangkan potensi ekonomi daerah. Pemerintah, dunia usaha dan perguruan tinggi dinilai perlu membangun kerja bersama agar transformasi ekonomi tidak hanya bertumpu pada satu sektor.
Di sisi lain, Wijaya menyoroti sejumlah persoalan yang masih meningkatkan biaya operasional pelaku usaha. Ia menyebutnya dengan istilah โPPNโ, yakni Pertamina, PLN, dan narkoba.
Menurutnya, kesulitan memperoleh BBM serta pemadaman listrik dapat mengganggu aktivitas usaha. Penggunaan genset saat listrik padam pun belum sepenuhnya menjadi solusi karena kebutuhan bahan bakar kembali menjadi persoalan.
โKetika listrik padam, kita mengandalkan genset. Tetapi mencari bahan bakarnya juga tidak mudah. Ini menjadi beban tambahan bagi dunia usaha,โ ujarnya.
Wijaya juga menyoroti persoalan โPPHโ, yakni proposal, preman, dan hukum, yang menurutnya turut berpengaruh terhadap kepastian dan biaya menjalankan usaha.
โKetika beban biaya ekonomi tinggi, itu akan menghambat pertumbuhan ekonomi kita,โ katanya.
Karena itu, ia mendorong pengembangan green economy, penguatan UMKM, inovasi produk lokal, serta kolaborasi pemerintah, akademisi dan dunia usaha sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi Sulteng yang lebih berkelanjutan.
โSulteng kaya potensi, sayang kalau tidak dioptimalkan. Tetapi dalam mengoptimalkannya, kita harus tetap memperhatikan kondisi lingkungan,โ ujarnya.
Forum tersebut turut menghadirkan Ketua Bidang Komunikasi GAPKI Bandung Sahari dan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulteng Miftachul Choiri. (*)
